Endut Isma
Ini pagi yang tak biasa. Entah karena grogi atau bagaimana, saya jadi seperti mengalami pagi yang aneh. Mungkin orang lain pernah mengalami pagi yang tak biasa seperti saya. Artinya bisa pagi yang spesial karena ada moment penting, atau spesial karena seperti menjadi bad day. Saya ingat ketika Shinfa untuk pertama kalinya masuk sekolah, pagi harinya adalah the crazy morning buat saya. Pertama, harus menyiapkan Shinfa untuk berangkat. Kedua, saya belum tahu bagaimana hari pertama akan berlangsung, dan ini membuat saya harap-harap cemas. Akan tetapi, pagi yang tak biasa kali ini, menurutku disebabkan oleh akumulasi banyak hal, dan saya akan coba menceritakannya berikut ini.
Seperti kebanyakan muslim yang sahur, sehabis shalat subuh adalah waktu yang enak buat melanjutkan tidur. Saya termasuk di antara mereka yang terbiasa tidur setelah sahur. Alarm hp saya set pada pukul 07.30 am, karena saya harus masuk kuliah pertama pada pukul 09.00 am. Sebelum tidur, saya sengaja mematikan musik atau bebunyian lewat lepi. Satu hal yang tidak akan saya ulangi lagi karena pengalaman mengajarkan bahwa mendengarkan musik atau pengajian bisa membuat tidur saya lebih aman dan nyaman. Pagi ini saya sudah percaya diri bahwa dengan modal ngantuk saya akan tidur dengan nyaman. Tapi, ternyata perkiraan saya meleset. Hasilnya saya bermimpi buruk. Bukan nightmare melainkan morningmare.
Dalam mimpi saya muncul tokoh Roma, dan kami sama-sama sedang pulang ke kampung untuk liburan, tapi hanya dua hari. Oh my god. Ada juga tokoh Ninik yang sedang interview bersama tiga orang alumni UHM untuk pekerjaan di kedutaan Indonesia di US. Mereka ditawari untuk bekerja di sana, dan dalam interview itu Ninik menjawab iya. Lalu, saya jadi ingat kalau besok adalah hari pertama masuk kelas Bu Barbara. What, bagaimana bisa, padahal saya masih di Indonesia dan belum punya tiket balik. Saya pun segera membuka lepi untuk browsing tiket, sayangnya tiba-tiba lepi saya terbakar. Saya panik, pertama, karena saya butuh tiket secepatnya. Kedua, bagaimana cara mengembalikan lepi mungil yang saya beli by online secepatnya. Detik itu tiba-tiba saya tak bisa bergerak. Meskipun saya tahu sedang dalam mimpi, saya tidak tahu pasti, sedang berada di mana, di kampungkah atau di mana. Lamat-lamat saya melihat seseorang di dekat jendela, seperti sedang membaca. Saya bilang, "Bangunin saya." Tak ada reaksi, lalu saya pikir, mungkin dia bule dan tidak tahu bahasa saya. Saya pun berteriak, "Plis help me to wake up." Tak ada juga reaksi. Saya hampir saja putus asa, tapi saya harus bangun. Seperti mendorong pintu besi, saya kerahkan semua tenaga untuk membukanya. Sangat tidak mudah dan saya hampir putus asa lagi. Mungkin karena kekuatan yang lain, sontak saya bisa duduk dengan mata ngantuk luar biasa. Barulah saya sadar kalau saya di salah satu kamar di Hale Manoa. Dan, ini kejadian menegangkan pertama yang saya alami pagi ini. Benar-benar antara hidup dan mati.
Setelah bangun, mata dan otak saya sepertinya klop menarik badan untuk terus berbaring di bed yang hangat. Kalau saja setiap hari adalah weekend, pasti saya akan turuti kemauan mereka.
Tapi, pagi ini adalah hari pertama masuk kuliah dan saya tidak boleh telat. Tanpa banyak berpikir, saya sambar handuk saya yang berukuran sedang dan berjalan keluar kamar dengan sukses menutup pintu. Tak butuh waktu lama untuk menyadari kalau sabun saya masih tertinggal di dalam kamar. Tapi, kesadaran yang lain tiba-tiba muncul juga, card key saya tertinggal di dalam kamar. Artinya, saya tidak bisa membuka pintu kamar.
Saya paling tidak suka dengan kejadian ini. Melupakan kuci kartu dalam keadaan yang tidak sesuai untuk turun ke front desk guna minta kunci yang baru. Hanya memakai kaos tidur dan handuk sedang. Dengan wajah terlipat-lipat dan berbekas cap selimut di beberapa bagian pipi. Kantung bawah mata membesar dan bentuk mata menyipit, belum ada tanda-tanda kesegaran untuk siap menyambut pagi. Sangat tidak menarik. Untungnya saya bertetanggaan dengan roma yang selalu saya mintai tolong untuk meminjami kostum memelas ke front desk. Orang kedua yang menjadi penolong kunci saya adalah si bapak tua berkacamata di fornt desk. Pagi ini sepertinya dia sedang mentraining staf baru yang muda. "Are you new staff?" tanya saya. "Yes, I am." Lalu saya iseng menanyakan namanya, dia menjawab Steven. Nama yang bagus dan mungkin ada sesuatu yang bisa aku ceritakan tentang dia kapan waktu *hehehe*.
Card key sudah di tangan, saya langsung meloncat karena waktu terus mendekat ke angka sembilan. Pada pintu lebar otomatis sebelum masuk eskalator, saya berpapasan dengan teman-teman yang mau masuk kelas. Ini juga sangat tidak menarik. Melihat semua orang sudah siap dengan paginya dan tersenyum dengan wajah segar mereka, saya justru membalas mereka dengan wajah tak karuan. Apalagi dengan kostum yang tidak elegan sama sekali. Tabrakan warna dan style dari ujung rambut sampai dasar kaki. Tapi, saya yakin mereka tidak ada yang tahu kejadian pagi saya, kecuali mereka membaca note ini :-)) Sekarang saya siap untuk mandi dan berdandan rapi untuk masuk kelas.
Seperti saya bilang, pagi ini adalah hari pertama saya masuk kelas di fall semester. Mungkin karena alasan ini saya merasa pagi ini menjadi tak biasa. Apalagi dengan serangkaian kejadian yang tak biasa sebelumnya. Saya agak berlari menuju Moore Hall karena hanya tersisa sepuluh menit sebelum pukul 09.00 am. Saya sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk berjalan cepat, tapi seorang bule tinggi berhasil mendahului dengan langkahnya yang santai. Ini sangat tidak menarik dan seperti penghinaan ;-)) Saya merasa seperti kurcaci yang keringatan karena bertarung mewalan waktu dan sinar matahari, dengan tas hitam sedang menutup separo bagian punggung saya. Saya lumayan bisa membayangkan bagaimana saya berjalan, kecil dan terengah-engah.
Bersyukur, saya tepat waktu sampai ke kelas. Karena ini kelas Bahasa Inggris, seluruh penghuni kelas berwajah Asia. Dua orang Indonesia, lima orang Vietnam, dan sisanya dari China, Jepang dan Korea. Saya duduk diapit anak laki-laki dari Korea dan perempuan dewasa dari Jepang. Mungkin karena pagi ini adalah pagi pertama kami bertemu, kami duduk seperti sedang bermusuhan. Ketika ada pembagian kelompok kecil, tak ada satu pun dari mereka yang berinisiatif untuk memosisikan diri ke dalam bentuk lingkaran. Tak ada wajah yang tersenyum di antara dua orang itu. Ketika berbicara, pelit sekali membuka mulut, dan hasilnya kata "text book" saja saya tidak bisa berhasil menangkap dengan baik. Saya baru paham ketika melihat tulisan si Jepang. Huhu, menangis bombay. Teman-teman pertama yang saya temukan pagi ini seperti bentuk nasi yang saya makan dulu di pesantren, individualis. But, saya berharap ini hanya akan terjadi pada pagi pertama, selanjutnya akan jadi lebih dekat dan bersahabat.
Pukul 10.15, kelas pertama selesai, dan terlewati dengan cepat juga. Tiba-tiba saja sudah harus beranjak, dan keluar ruangan. Begitu pintu terbuka, pemandangan tak biasa kembali saya temukan. Koridor Moore Hall tampak penuh oleh manusia. Dari yang berwajah Asia sampai bule-bule. Biasanya ketika saya mengikuti English Preparation sebelum fall semester mulai, Moore Hall selalu lengang, seperti bukan kampus. Sepi seperti bioskop ditinggalkan penontonnya. Tapi, sekarang jauh berbeda. Moore Hall seperti koridor Megaria yang ramai oleh penonton film. Mereka berdiri dan duduk lesehan di sepanjang koridor menunggu pintu bioskop dibuka. Ke mana orang-orang itu sepanjang summer ya.
Saya pun harus menyisir orang-orang itu dengan cepat. Saya punya satu tugas lagi pagi ini, yaitu menghitung waktu yang dibutuhkan untuk jalan kaki dari Moore Hall ke Holm Building. Ceritanya uji coba waktu dan langkah, karena untuk selasa dan kamis, saya harus terbiasa berjalan dari dua gedung itu dalam waktu 14 menit. Pada pukul 10.30 saya harus sudah sampai di lantai 2 gedung Holm untuk kelas yang lain. Ini pengalaman baru dan belum pernah saya uji cobakan di IAIN dulu. Karena UHM menerapkan shopping mata kuliah sehingga para mahasiswa mendapat kebebasan untuk memilih mata kuliah sesuai dengan interest. Otomatis, salah satunya harus juga mempertimbangkan apakah bentrok waktu atau tidak, atau bisakah menempuh jarak antara satu gedung dengan gedung yang lain dalam lima belas menit.
Mencocokkan waktu dan langkah mungkin menjadi satu-satunya kejadian yang menarik pagi ini. Lucu tapi juga harus. Sewaktu saya melakukan penghitungan ini, di tengah jalan saya berpapasan dengan dua orang mahasiswa perempuan. Keduanya memakai celana pendek dan tengtop, berambut ikal dan kulit sawo matang. Salah seorang bilang, "So I have to walk like this ...," sambil mencontohkan langkah seperti atlit jalan cepat. Saya tertawa dalam hati, ternyata saya tidak sendirian. Mereka juga sedang menyiasati bagaimana bisa berpindah ke kelas yang berbeda dengan tepat waktu. Dan, ini saya temukan di pagi saya yang tak biasa :-))
Have a nice morning everyone ...

Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.